Peran perlu dunia akademisi di dalam mengembangkan kepedulian terhadap masyarakat dan bangsa makin terasa. Banyak ragam dikerjakan untuk menambah kualitas dan kualitas pelayanan,salah satunya yang dikerjakan oleh civitas akademika FEB UNAIR, yakni bersama mengadakan Relaunching Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan seminar nasional yang bertajuk.

Bertempat di Aula Fadjar FEB UNAIR, acara tersebut dihadiri oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ir. Nurhaida, MBA, Anggota Komisi XI DPR-RI Indah Kurnia, SE., MM., Direktur Utama BEI Dr. H. Tito Sulistio, SE., M.Sc., Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan, SE., M.Si. dan Dekan FEB Unair Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak.

Galeri Investasi BEI bukan terhitung perihal yang baru di FEB UNAIR, pasalnya terhadap tahun 2007 pernah didirikan fasilitas untuk berinvestasi yang bernama Pojok Bursa. Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin mengenal pasar modal dan terhitung memudahkan di dalam berinvestasi di dalam bentuk saham.

“Sejak 2007 FEB UNAIR telah miliki Pojok Bursa, di tahun 2012 namanya kami rubah jadi Galeri IDX, dikarenakan penempatannya tidak strategis sehingga banyak mahasiswa yang enggan ke sana. Kali ini, bersama wilayah yang strategis, kami relaunching lagi bersama nama Galeri Investasi BEI,” Tutur Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak. selaku Dekan FEB UNAIR.

Relaunching Galeri Investasi BEI sendiri memiliki tujuan untuk mendorong mahasiswa sehingga berinvestasi lewat saham, perihal ini perlu dikerjakan dikarenakan potensi pertumbuhan nilai saham di Indonesia cenderung tinggi. Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sebesar 6 persen di dalam kuartal pertama di tahun 2016 sehingga kesempatan di dalam beroleh capital gain dan terhitung deviden cenderung tinggi.

“Saat ini, IHSG sedang tumbuh sebesar 6% terhadap tiga bulan pertama di awal 2016. Pertumbuhan ini merupakan yang terbesar di dunia sehingga para investor luar negeri berbondong-bondong menanam uangnya di Indonesia,” ujar Nurhaida selaku Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK.

Berinvestasi di dalam bentuk saham perlu diawali sejak dini sehingga sanggup beroleh keuntungan di masa depan, perihal ini dikarenakan investasi saham berbentuk jangka panjang. Dari tahun ke tahun, pertumbuhan saham perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung meningkat.

Contohnya yakni perusahaan unilever, ketika tahun 80-an harga saham di   http://www.carabelisaham.id/ milik Unilever hanya Rp 400 per lembar tetapi kini saham Unilever meningkat tajam hingga capai 39.400 per lembarnya. Selain itu, pemilik saham terhitung berhak atas kepemilikan di suatu perusahaan yang sahamnya telah dibeli.

“Dengan belanja saham suatu perusahaan artinya kami ikut miliki perusahaan tersebut. Maka dari itu, marilah belanja saham sejak dini. Mc Kansey di dalam analisisnya menyebutkan bahwa sementara ini Indonesia masuk di dalam keliru satu dari 16 negara besar di sektor ekonomi.

Diprediksikan tahun 2030, Indonesia bakal jadi keliru satu dari 7 negara terbesar di dalam perihal ekonomi. Jika anda tidak berinvestasi dari saat ini maka anda bakal menyesal,” pungkas Nicky Hogan selaku Direktur Pengembangan BEI.

By toha